Tampilkan postingan dengan label poem kahlil gibran the series.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem kahlil gibran the series.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Desember 2012

kebebasan by kahlil gibran

Judul puisi :Kebebasan

Oleh :Kahlil gibran








 Sebuah kebebasan



Seorang ahli pidato

bertanya masalah kebebasan.



Dia mendapat jawaban;

Telah kusaksikan,

di gerbang kota maupun dekat tungku perapian,

dikau bertekuk lutut memuja Sang Kebebasan.



Laksana hamba budak merendahkan diri di depan sang tuan,

si zalim yang disanjung puja,

walaupun dia hendak menikam.



Ya, sampai pun di relung-relung candi,

dan keteduhan pusat kota,

kulihat yang paling bebas pun diantara kalian,

mengendong kebebasannya laksana pikulan,

mengenakannya seperti besi pembelenggu tangan.



Hatiku menitikkan darah dalam dada,

kerana kutahu,



bahawa kau hanya dapat bebas sepenuhnya,

pabila kau dapat menyadari

bahawa keinginan untuk kebebasan pun,

merupakan sebentuk belenggu jiwamu.



Hanya jikalau kau pada akhirnya,

berhenti bicara tentang Kebebasan,

sebagai suatu tujuan dan sebuah hasil perbincangan,

maka kau akan bebas,

bila hari-hari tiada kosong dari beban fikiran,

dan malam-malammu tiada sepi dari kekurangan dan kesedihan.



Bahkan justeru Kebebasanmu berada dalam rangkuman beban hidup ini,

tetapi yang berhasil engkau atasi,

dan jaya kau tegak menjulang tinggi,

sempurna, terlepas segala tali-temali.



Dan bagaimana kau kan bangkit,

mengatasi hari dan malammu,

pabila kau tak mematahkan belenggu ikatan,

yang di pagi pengalamanmu,

telah engkau kaitkan pada ketinggian tengah harimu?



Sesungguhnyalah,

apa yang kau namai Kebebasan,

tak lain dari mata terkuat diantara mata rantai belenggumu,

walau kilaunya gemerlap cemerlang di sinar suria,

serta menyilaukan pandang matamu.



Dan sadarkah engkau,

apa yang akan kau lepaskan itu?

tiada lain adalah cebisan dari dirimu,

jikalau kau hendak mencapai kebebasan yang kau rindu.



Pabila yang akan kau buang itu,

suatu hukum yang tak adil,

akuilah bahwa dia telah kau tulis dengan tanganmu sendiri,

serta kau pahatkan diatas permukaan keningmu.



Mustahil kau akan menghapusnya,

dengan hanya membakar kitab-kitab hukummu,

tak mungkin pula dengan cara membasuh kening para hakimmu,

walau air seluruh lautan kaucurahkan untuk itu.



Pabila seorang zalim yang hendak kau tumbangkan,

usahakanlah dahulu,

agar kursi tahtanya yang kau tegakkan di hatimu,

kau cabut akarnya sebelum itu.



Sebab bagaimanakah seorang zalim,

dapat memerintah orang bebas dan punya harga diri,

jika bukan engkau sendiri membiarkannya,

menodai kebebasan yang kaujunjung tinggi,

mencorengkan arang pada harkat martabat kemanusiaanmu peribadi?



Pabila suatu beban kesusahan yang hendak kautanggalkan,

maka ingatlah bahwa beban itu telah pernah menjadi pilihanmu,

bukannya telah dipaksakan diatas pundakmu.



Bilamana ketakutan yang ingin kau hilangkan,

maka perasaan ngeri itu bersarang di hatimu,

bukannya berada pada dia yang kau takuti.



Sebenarnyalah, segalanya itu bergetar dalam diri,

dalam rangkulan setengah terkatup, yang abadi;

antara;

yang kauinginkan dan yang kau takuti,

yang memuakkan dan yang kausanjung puji,

yang kaukejar-kejar dan yang hendak kau tinggal pergi.



Kesemuanya itu hadir dalam dirimu selalu,

bagaikan Sinar dan Bayangan,

dalam pasangan-pasangan,

yang lestari berpelukan.



Dan pabila sang bayangan menjadi kabur, melenyap hilang,

maka sinar yang tinggal, wujudlah bayangan baru,

bagi sinar yang lain

demikianlah selalu.



Seperti itulah arti Kebebasan,

pabila ia kehilangan pengikatnya yang lama,

maka ia sendirilah menjadi pengikat baru,

bagi Kebebasan yang sentiasa  lebih agung.



by:Kahlil gibran


Selasa, 11 Desember 2012

puisi kahlil gibran "Hukum"

Judul puisi: Tentang hukum

Oleh        : Kahlil gibran



 hukum




Kemudian seorang pengacara mengatakan,

"Tapi bagaimana Hukum kami, tuan?"

Dan dia menjawab:
Anda senang dalam meletakkan hukum,

Namun Anda lebih senang dalam melanggar mereka.

Seperti anak-anak bermain dengan Samudra yang membangun menara pasir dengan keteguhan dan kemudian menghancurkan mereka dengan tawa.

Tapi,
selama kau sedang sibuk menyusun menara pasirmu,

sang laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ke tepi,



Dan pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu,
sang laut pun turut tertawa bersamamu.

Sesungguhnya,
samudera sentiasa ikut tertawa,
bersama mereka yang tanpa dosa.

Tapi bagaimanakah mereka,
yang menganggap kehidupan bukan sebagai samudera,

dan melihat undang-undang buatannya sendiri,
bukan ibarat menara pasir?



Merekalah yang memandang kehidupan,
laksana sebongkah

batu karang,

dan undang-undang menjadi pahatnya,
untuk memberinya bentuk ukiran,
menurut selera manusia,
sesuai hasrat kemauan.

Bagaimana dia,
si tempang yang membenci para penari?



Bagaimana pula kerbau yang menyukai bebannya,
dam mencemooh kijang,
menamakannya hewan liar tiada guna?

Lalu betapa ular tua,
yang tak dapat lagi menukar kulitnya,
dan kerana itu menyebut ular lain sebagai telanjang,
tak kenal susila?

Ada lagi dia,
yang pagi- pagi mendatangi pesta,
suatu keramaian perkawinan,
kemudian setelah kenyang perutnya,
dengan badan keletihan,
meninggalkan keramaian dengan umpatan,
menyatakan semua pesta sebagai suatu kesalahan,
dan semua terlibat melakukan kesalahan belaka.



Apalah yang kukatakan tentang mereka,
kecuali bahwa memang mereka berdiri di bawah sinar mentari,
namun berpaling wajah, dan punggung mereka membelakangi?

Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,
dan bayangan itulah menjadi undang-undangnya.



Apakah erti sang surya bagi mereka,
selain sebuah pelempar bayangan?

Dan apakah kepatuhan hukum baginya,
selain terbongkok dan melata di atas tanah,
mencari dan menyelusuri bayangan sendiri?

Tapi kau,
yang berjalan menghadapkan wajah ke arah mentari,
bayangan apa di atas tanah,
yang dapat menahanmu?



Kau yang mengembara di atas angin,
kincir mana yang mampu memerintahkan arah perjalananmu,
hukum mana yang mengikatmu,
bila kau patahkan pikulanmu,
tanpa memukulnya pada pintu penjara orang lain?

Hukum apa yang kau takuti,
jikalau kau menari-nari,
tanpa kakimu tersadung belenggu orang lain?

Dan siapakah dia yang menuntutmu,
bila kau mencampakkan pakaianmu,
tanpa melemparkannya di jalan orang lain?



Rakyat Orphalese,
kalian mungkin mampu memukul gendang,
dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,
namun katakan,
siapakah yang dapat menghalangi,
burung pipit untuk menyanyi.



Puisi by:Kahlil gibran

Kamis, 21 Juni 2012

KISAHKU

KISAHKU









"KISAHKU"



Dengarkan kisahku... .

Dengarkan, tetapi jangan menaruh belas kasihan padaku.

kerana belas kasihan menyebabkan kelemahan, padahal aku masih tegar dalam penderitaanku.



Jika kita mencintai, cinta kita bukan dari diri kita, juga bukan untuk diri kita.

Jika kita bergembira, kegembiraan kita bukan berada dalam diri kita, tapi dalam Hidup itu sendiri.

Jika kita menderita, kesakitan kita tidak terletak pada luka kita, tapi dalam hati nurani alam.



Jangan kau anggap bahawa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama atau rayuan yang terus menerus.

Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan dari generasi ke generasi.



Wanita yang menghiasi tingkah lakunya dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang terbuka namun rahsia, ia hanya dapat difahami melalui cinta, hanya dapat disentuh dengan kebaikan, dan ketika kita mencoba untuk menggambarkannya ia menghilang bagai segumpal asap.



By"kahlil gibran

Minggu, 10 Juni 2012

Kumpulan puisi kahlil gibran.

kumpulan puisi kahlil gibran



Judul : Pikiran dan Samadi

by:kahlil gibran



alt='puisi-puisi-cinta-kahlil-gibran'
title='puisi-kahlil-gibran' width='280'
height='260'/>



PIKIRAN DAN SAMADI

Hidup menjemput dan melantunkan kita dari satu tempat ke tempat lain

Nasib memindahkan kita dari satu tahap ke tahap lain.



Dan kita yang diburu oleh keduanya, hanya mendengar suara yang mengerikan, dan hanya

melihat sosok yang menghalangi dan merintangi jalan kita.



Keindahan menghadirkan dirinya dengan duduk di atas singgasana keagungan,tapi kami mendekatinya atas dorongan Nafsu,merenggut mahkota

kesuciannya, dan mengotori busananya dengan tindak laku durhaka.



Cinta lewat di depan kita, berjubahkan kelembutan tapi kita lari

ketakutan, atau bersembunyi dalam kegelapan, atau ada pula yang malahan

mengikutinya, untuk berbuat kebusukan atas namanya.



Meski orang yang paling bijaksana terbungkuk karena memikul beban Cinta,

tapi sebenarnya beban itu seringan pawana riang Lebanon.

Kebebasan mengundang kita pada mejanya agar kita menikmati makanan lezat

dan anggurnya tapi bila kita telah duduk menghadapinya, kita pun makan

dengan lahap dan rakus.



Tangan Alam menyambut hangat kedatangan kita, dan menawarkan pula agar

kita menikmati keindahannya tapi kita takut akan keheningannya, lalu

bergegas lari ke kota yang ramai, berdesak-desakan seperti kawanan kambing

yang lari ketakutan oleh serigala garang.

Kebenaran memanggil-manggil kita di antara tawa anak-anak atau ciuman

kekasih, tapi kita menutup pintu keramahan baginya, dan menghadapinya bagaikan musuh.



Hati manusia menyeru pertolongan jiwa manusia memohon pembebasan tapi kita tidak mendengar teriak mereka, karena kita tidak membuka telinga dan

berniat memahaminya. Tapi orang yang mendengar dan memahaminya malahan

kita sebut gila lalu kita tinggalkan.



Malampun berlalu, hidup kita lelah dan kurang waspada, sedang hari pun

memberi salam dan merangkul kita. Tapi di siang dan malam hari, kita senantiasa ketakutan.

Kita amat terikat pada bumi, sedangkan gerbang Tuhan terbuka lebar.



Kita menginjak-injak roti Kehidupan, sedangkan kelaparan menggerogoti hati

kita. Sungguh betapa budiman Sang Hidup terhadap Manusia, namun betapa

jauh Manusia meninggalkan Sang Hidup.



Karya : kahlil gibran" Suara Sang Guru"

Senin, 23 April 2012

KAHLIL GIBRAN|ANTARA PAGI DAN MALAM HARI

ANTARA PAGI DAN MALAM HARI



OLEH:KAHLIL GIBRAN





anda mencari keyword pentang puisicinta,kahlil gibran,puisi kahlil gibran,puisi cinta kahli gibrannkalil gibran,gibran,puisi rindu,puisi patah hati,puisi untuk sang pacar,puisi patah hati,puisi kegagalan,puisi islamikumpulan syair dan puisi,syair sufi,poem,poetry,poetanda bisa jumpai di sini

TENANGLAH hatiku, kerana langit tak jua mendengari.

Tenanglah, kerana bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.

Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.



Tenanglah, kerana roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.



Tenanglah, hatiku Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan.

Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.

Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku. Dalam mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus. Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju. Kulihat seorang bidadari telanjang menari-menari di antara batu-batu kubur.



Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak. Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi.

Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.

Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.



Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang.

Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa. Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan,

ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian? Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?



Dengarlah hatiku, dan dengarlah ucapanku. Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua, menghunjam akar-akarnya ke dasar bumi dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga.



Jiwaku berbunga di musim bunga,memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan kuletakkannya di tengah jalan.



Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakannya, serta meneruskan perjalanan mereka.

dikala musim gugur berlalu dan gita pujinya bertukar menjadi lagu kematian dan ratapan, kudapati semua orang telah meninggalkan diriku kecuali satusatunya buah di talam perak. Kuambil ia dan memakannya, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu, masam bak anggur hijau.



Aku berbicara dalam hati,"Bencana bagiku, kerana telah kutempatkan sebentuk laknat di dalam mulut orang-orang itu, dan permusuhan dalam perutnya."

Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang telah meresap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk cahaya matahari Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua.

Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan kenangan seribu musim bunga dan seribu musim gugur.



Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain. Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu. Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,"Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati kerlipan bintang."Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil berkata, ." Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata sebentuk kemanisan. ." Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.



Pada musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkala musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan kuletakkan di tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompokkelompok, tapi tak satu pun menghulurkan tangannya untuk mengambil bahagiannya. Lalu kuambil sebuah dan memakannya, merasakan manisnya bagai madu pilihan, lazat seperti musim bunga dari syurga, sangat menyenangkan laksana anggur Babylon, wangi bak wangi-wangian dari melati. Aku menjerit,"Orang-orang tak menginginkan rahmat pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, kerana rahmat adalah puteri airmata dan kebenaran putera darah!" Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.



Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Tenanglah, kerana langit menghembus bau hamis kematian dan tak bisa meminum nafasmu. Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara. Semalam fikiranku adalah kapal yang terumbang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai Kapal fikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, gemilang berwarna-warni. Sang waktu datang kala aku merasa jemu terapung-apungan di atas permukaan laut dan berkata, "Aku akan kembali ke kapal kosong fikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan." Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni -kuning matahari terbenam, hijau musim bunga baru, biru kubah langit, merah senjakala yang menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kuukirkan susuk-susuk menakjubkan, menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan. Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih.



Mereka membawaku ke dalam kota, memukul gendang dan meniup seruling. Ini mereka lakukan kerana bahagian luar kapalku yang dihias dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal fikiranku. Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan. Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,"Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka"

Setelah setahun aku menaiki kapal fikiranku dan kulayari di laut untuk kedua kalinya.



Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana.

Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung. Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata.

Aku mengisi kapal fikiranku dengan harta benda dan barang-barang lhasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, "Orang-orangku pasti akan memujiku, memang sudah pastinya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup trompet" Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menemuiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota, tak seorang pun memerhatikan diriku.



Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahawa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemuhan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku. Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku. Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit. Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang yang bertaburan. Angin,badai dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar, memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang. Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air.



Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku kerana mata mereka hanya melihat bahagian luar. Pada saat itu kutinggalkan kapal fikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahsiarahsianya. TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.



Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu. Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Kerana dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan semangat. NUN di sana! Fajar merekah, hatiku.



Bicaralah, jika kau mampu bicara! Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar? Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah.



Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka? Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan kandang.



Akankah roh-roh malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau? Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur.



Kenapa kau tak beranjak dan berjalan bersama mereka?

Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, kerana malam telah berlalu. Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya.

Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, kerana hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam nyanyian sang fajar.



By"kahlil gibran

Jumat, 20 April 2012

bangsa kasihan

Judul:BANGSA KASIHAN

Oleh:KAHLIL GIBRAN







Kasihan bangsa…

yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak dituainya dan meminum anggur yang tidak diperasnya.



Kasihan bangsa …

yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.



Kasihan bangsa …

yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.



Kasihan bangsa …

yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan diatas kuburan, tidak sesumbar kecuali diruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada diantara pedang dan landasan.




Kasihan bangsa …

yang negarawannya serigala, falsafahnya karung nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.



Kasihan bangsa …

yang menyambut penguasa barunya dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.



Kasihan bangsa …

yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu dan orang kuatnya masih dalam gendongan.



Kasihan bangsa …

yang berpecah-belah, dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.

Kamis, 12 April 2012

kahlil gibran"nyanyian hujan"

Nyanyian hujan by Kahlil gibran.

Kahlil-gibran-nyanyian-hujan



Penyair:kahlil gibran



Judul:nyanyian hujan



kehidupan merupakan sebuah pulau di lautan kesepian, dan bagi pulau itu bukti karang yang timbul merupakan harapan, pohon merupakan impian, bunga merupakan keheningan perasaan, dan sungai merupakan damba kehausan.

Hidupmu, wahai saudara-saudaraku, laksana pulau yang terpisah dari pulau dan daerah lain. Entah berapa banyak kapal yang bertolak dari pantaimu menuju wilayah lain, entah berapa banyak armada yang berlabuh di pesisirmu, namun engkau tetap pulau yang sunyi, menderita kerana pedihnya sepi dan dambaan terhadap kebahagiaan.

Engkau tak dikenal oleh sesama insan, lagi pula terpencil dari keakraban dan perhatian. Saudaraku,kulihat engkau duduk di atas bukit emas serta menikmati kekayaanmu bangga akan hartamu, dan yakin bahawa setiap genggam emas yang kau kumpulkan merupakan mata rantai yang menghubungkan hasrat dan fikiran orang lain dengan dirimu.

Di mata hatiku engkau kelihatan bagaikan panglima besar yang memimpin bala tentara, hendak menggempur benteng musuh. Tapi setelahkuamati lagi, yang nampak hanya hati hampa belaka,yang tertempel di balik longgok emasmu, bagaikan seekor burung kehausan dalam sangkar emas dengan wadah air yang kosong. Kulihat engkau, saudaraku, duduk di atas singgahsana agung; di sekelilingmu berdiri rakyatmu yang memuji-muji keagunganmu, menyanyikan lagu penghormatan bagi karyamu yang mengagumkan,memuji kebijaksanaanmu, memandangmu seakan-akan nabi yang mulia, bahkan jiwa mereka melambung kesukaan sampai ke langit-langit angkasa. Dan ketika engkau memandang kelilingmu, terlukislah pada wajahmu kebahagiaan, kekuasaan, dan kejayaan, seakan-akan engkau adalah nyawa bagi raga mereka. Tapi bila kupandang lagi, kelihatan engkau seorang diri dalam kesunyian , berdiri di samping singgahsanamu, menadahkan tangan ke segala arah, seakan-akan memohon belas kasihan dan pertolongan dari roh-roh yang tak nampak -mengemis perlindungan, kerana tersisih dari persahabatan dan kehangatan persaudaraan. Kulihat dirimu, saudaraku, yang sedang mabuk asmara pada wanita jelita, menyerahkan hatimu pada paras kecantikannya.

Ketika kulihat ia memandangmu dengan kelembutan dan kasih keibuan, aku berkata dalam hati, "Terpujilah Cinta yang mampu mengisi kesepian pria ini dan mengakrabkan hatinya dengan hati manusia lain." Namun, bilamana kuamati lagi, di sebalik hatimu yang bersalut cinta terdapat hati lain yang kesunyian, meratap hendak menyatakan cintanya pada wanita ,dan di sebalik jiwamu yang sarat cinta, terdapat jiwa lain yang hampa, bagaikan awan yang mengembara, menjadi titik-titik air mata kekasihmu¨ Hidupmu, wahai saudaraku, merupakan tempat tinggal sunyi yang terpisah dari wilayah penempatan orang lain, bagaikan ruang tengah rumah yang tertutup dari pandangan mata tetangga.

Seandainya rumahmu tersalut oleh kegelapan, sinar lampu tetanggamu tak dapat masuk meneranginya. Jika kosong dari persediaan kemarau, isi gudang tetanggamu tak dapat mengisinya. Jika rumahmu berdiri di atas gurun, engkau tak dapat memindahkannya ke halaman orang lain, yang telah diolah dan ditanami oleh tangan orang lain. Jika rumahmu berdiri di atas puncak gunung, engkau tak dapat memindahkannya atas lembah, kerana lerengnya tak dapat ditempuh oleh kaki manusia. Kehidupanmu, saudaraku, dibaluti oleh kesunyian, dan jika bukan kerana kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku.

Jika bukan kerana kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya kiranya aku memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang sedang memandang cermin.

Selasa, 28 Februari 2012

kalil gibran "nyanyaian sukma"

SYAIR KAHLIL GIBRAN

judul:NYANYIAN SUKMA

karya:kahlil gibran

Didasar relung jiwaku Bergema nyanyian tanpa kata,sebuah lagu yang bernafas didalam benih hatiku, Yang tiada dicairkan oleh tinta diatas lembar kulit ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yang tipis kainnya, dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku.

Betapa dapat aku mendesahkannya, Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana Kepada siapa aku akan menyanyikannya,Dia tersimpan dalam relung sukmaku Kerna aku risau, dia akan terhempas Ditelinga pendengaran yang keras.

Pabila kutatap penglihatan batinku Nampak didalamnya bayangan dari bayangannya, Dan pabila kusentuh ujung jemariku Terasa getaran kehadirannya.

Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya, Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya bintang-bintang bergemerlapan.

Air mataku menandai sendu Bagai titik-titik embun syahdu Yang membongkarkan rahsia mawar layu. Lagu itu digubah oleh renungan, Dan dikumandangkan oleh kesunyian, Dan disingkiri oleh kebisingan, Dan dilipat oleh kebenaran, Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan, Dan difahami oleh Cinta Dan disembunyikan oleh kesedaran siang Dan dinyanyikan oleh sukma malam.Lagu itu Lagu kasih sayang, Gerangan 'Cain' atau 'Esau' manakah Yang mampu membawakannya berkumandang.Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati Suara manakah yang dapat menangkapnya? Kidung itu tersembunyi bagai rahasia perawan suci, Getar nada mana yang mampu menggoyahnya? Siapa berani menyatukan debur ombak samudra dengan kicau bening burung malam? Siapa yang berani membandingkan deru alam, Dengan desah bayi yang nyenyak dibuaian.Siapa berani memecah sunyi Dan lantang menuturkan bisikan sanubari Yang hanya terungkap oleh hati Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan.




by: Khalil Gibran

Rabu, 28 Desember 2011

KAHLIL GIBRAN |RAHASIA JODOH

JUDUL;RAHASIA JODOH

oleh;kahlil gibran.



kahlil gibran, poem kahlil gibran the series





Berpasangan engkau telah diciptakan

Dan selamanya engkau akan berpasangan Bergandingan tanganlah dikau Hingga sayap-sayap panjang nan lebar lebur dalam nyala Dalam ikatan agung menyatu kalian Saling menataplah dalam keharmonian



Dan bukanlah hanya saling menatap

kedepan Tapi bagaimana melangkah ketujuan semula Berpasangan engkau dalam mengurai kebersamaan Kerana idak ada yang benar-benar mampu hidup bersendirian Bahkan keindahan syurga tak mampu menghapus kesepian Adam.



Berpasangan engkau dalam menghimpun rahmat Tuhan , bahkan bersama pula dalam menikmatinya Kerana alam dan kurniaan Tuhan Terlampau luas untuk dinikmati sendirian Bersamalah engkau dalam setiap keadaan Kerana kebahagiaan tersedia, bagi mereka yang menangis.



Bagi mereka yang disakiti hatinya, bagi mereka yang mencari, bagi mereka yang mencuba Dan bagi mereka yang mampu memahami arti hidup bersama Kerana mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan.



mereka Bersamalah dikau sampai sayap-sayap sang maut meliputimu, bahkan bersama pula kalian dalam musim sunyi Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu Tempat angin syurga menari-nari diantara bahtera sakinahmu.

Berkasih-kasihlah, namun jangan membelenggu CINTA Biarkan cinta mengalir dalam setiap titisan darah Bagai mata air kehidupan Yang gemerciknya senantiasa menghidupi pantai

kedua jiwa.



Saling isilah minumanmu tapi jangan

minum dari satu piala Saling kongsilah rotimu tapi jangan makan dari pinggan yang sama.. Menyanyilah dan menarilah bersama dalam suka dan duka



Hanya biarkan masing-masing menghayati waktu sendirinya Kerana dawai-dawai biola, masing-masing punya kehidupan sendiri Walau lagu yang sama sedang menggetarkannya Sebab itulah simfoni kehidupan



Berikan hatimu namun jangan saling menguasainya Jika tidak, kalian hanya mencintai pantulan diri sendiri Yang kalian temukan dalam dia Dan lagi, hanya tangan kehidupan yang akan mampu merangkulnya.



Tegaklah berjajar namun jangan terlampau dekat Bukankah tiang-tiang candi tidak dibina terlalu rapat? Dan pohon jati serta pohon cemara Tidak tumbuh dalam bayangan masing-masing.







oleh;kahlil gibran

© campor bawor

Minggu, 25 Desember 2011

puisi kahlil gibran|cinta bag3

CINTA

oleh;kahlil gibran



gibran



Mereka berkata tentang serigala dan tikus.

Minum disungai yang sama Dimana singa melepas dahaga Mereka berkata tentang helang dan hering Menjunam paruhnya kedalam bangkai yang sama Dan berdamai -di antara satu sama lain, Dalam kehadiran bangkai -bangkai mati itu Oh. Cinta..,



yang tangan lembutnya mengekang keinginanku Meluapkan rasa lapar dan dahaga akan maruah dan kebanggaan, Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku Memakan roti dan meminum anggur Menggoda diriku yang lemah ini,



Biarkan rasa lapar menggigitku, Biarkan rasa haus membakarku, Biarkan aku mati dan binasa, Sebelum kuangkat tanganku Untuk cangkir yang tidak kau isi, Dan mangkuk yang tidak kau berkati.



(Dari 'The Forerunner)



by;kahlil gibran

Jumat, 23 Desember 2011

PUISI KAHLIL GIBRAN "IBU"

PUISI KAHLIL GIBRAN



Judul;ibu.



Puisikahlil,gibran





Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir -bibir manusia.

Dan "Ibuku" merupakan sebutan terindah.

Kata yang semerbak cinta dan impian,

manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa. .



Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita dikala nista. Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.

Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.



Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya. Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.



Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian. Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian. Khalil Gibran

Minggu, 18 Desember 2011

Kahlil Gibran,Alam dan Manusia.

Alam dan Manusia.



puisi kahlil gibran kali ini bertemakan alam dan manusia. dia menceritakan keindahan alam yang hancur karena ulah dari tangan tangan manusia yang gak bertanggung jawab.mengotori air sehinggah mengubah sifat kemurnian dari air itu sendiri. merusak ekosistem alam sehingga menyebabkan kepunahan satwa satwa yang menhuninya.demikian sekelumit kata dari kami semoga kita bisa menjaga dan melestarikan alam disekitar kita.demi kenyamanan kita sendiri.

karna kehancuran alam ini ada ditangan kita masing masing.dan semoga puisi berikut ini sanggup menggugah jiwa kita untuk hidup lebih bersahabat dengan alam.



Aku mendengar anak Mungai merintih

bagai seorang janda yang menangis

meratapi kematian anaknya

dan aku kemudian bertanya,

"Mengapa engkau menangis, sungaiku

yang jernih?' Dan sungai itu menjawab,



'Sebab aku dipaksa Mengalir kekota

tempat Manusia merendahkan dan

mensia-siakan diriku dan menjadikanku minuman-minuman keras dan mereka memperalatkanku bagai pembersih sampah, meracuni kemurnianku

dan mengubah sifat-sifatku yang baik

menjadi sifat-sifat bu®uk."....



Dan aku mendengar Burung-burung menangis, dan aku be®tanya, "Mengapa engkau menangis, burung-burungku yang cantik?"

Dan salah satu dari burung itu terbang mendekatiku, dan hinggap dihujung sebuah cabang pohon dan berkata, ..



Anak-anak Adam akan Segera datang

diladang ini dengan membawa senjata-senjata pembunuh dan menyerang kami seolah-olah kami adalah musuhnya.



Kami sekarang terpisah Diantara satu

sama yang lain, sebab kami tidak tahu siapa diantara kami yang bisa selamat dari kejahatan Manusia. Ajal memburu kami kemana pun kami pergi." Kini, mataha®i terbit dari balik puncak pergunungan, dan menyinari puncakpuncak pepohonan dengan rona mahkota.



Kupandangi keindahan ini &aku

bertanya kepada diriku sendiri, 'Mengapa Manusia mesti menghancurkan segala karya

yang telah diciptakan oleh alam!!!!'



«Khalil Gibran»






©satrioedan on;18/12/11,

Sabtu, 10 Desember 2011

KAHLIL GIBRAN-KETIKA MAUT MENJELANG





Photobucket





DUA KEINGINAN- saat maut menjelang.







Di keheningan malam, Sang Maut turun atas hadrat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya.





Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan Sang Lelap.







Ketika rembulan tersungkur di kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di

celah-celah kediaman -berhati-hati tidak menyentuh apa-apa pun -sehingga tiba di sebuah istana.





Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa sebarang halangan dan berdiri di sisi sebuah ranjang , dan tika ia menyentuh dahi si lena, lelaki itu membuka kelopak matanya dan memandang dengan penuh ketakutan.







Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk kemarahan, "Pergilah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau memasuki istana ini? Apa yang kau inginkan? Tinggalkan rumah ini dengan segera! Ingatlah, akulah tuan rumah ini.



Enyahlah kau, kalau tidak, kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku untuk mencincangmu menjadi kepingan!"







Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, "Akulah kematian, berdiri dan tunduklah padaku."





Dan si lelaki itu menjawab, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika urusanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kaya berkuasa seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku sakit menatap sayap-sayapmu yang menjijikkan dan tubuhmu yang meloyakan.





Namun selepas tersedar, dia menambah dengan ketakutan, "Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, kerana rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang.





Maka ambillah longgokan emasku semahumu atau nyawa salah seorang dari hamba-hambaku, dan tinggalkanlah diriku... Aku masih mempunyai urusan kehidupan yang belum selesai dan berhutang emas dengan orang.





Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, permintaanku..jangan ambil nyawaku... Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku.





Aku punya perempuan simpanan yang luarbiasa cantiknya untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putera tunggal yang kusayangi, dialah sumber kegembiraan hidupku.





Kutawarkan dia juga sebagai galang ganti, tapi nyawaku jangan kau cabut dan tinggalkan diriku sendirian."





Sang Maut itu mengeruh,"Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sadar diri." Kemudian Maut mengambil tangan orang hina itu, mencabut nyawanya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk menghukumnya.





Dan Maut berjalan perlahan di antara setinggan orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling daif yang ia temukan.





Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga.





Dan ketika melihat Sang Maut berdiri disampingnya, iaberkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku disini, wahai Sang Maut yang cantik.





Sambutlah rohku, kerana kaulah harapan impianku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, kerana kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku disini.





Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku disini."





"Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali, namun kau tak jua datang. Tapi kini kau telah mendengar suaraku, kerana itu jangan kecewakan cintaku dengan menjauhi diri. Peluklah rohku, Sang Maut yang dikasihi." Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya keatas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruh roh itu dibawah perlindungan sayap-sayapnya.





Ketika ia naik kembali kelangit, Maut menoleh kebelakang --ke dunia -dan dalam bisikan amaran ia berkata,
"Hanya mereka didunia yang mencari Keabadianlah yang sampai keKeabadian itu."



(Dari 'Dam'ah WaIbtisamah' -Setetes Air Mata Seulas Senyuman)


«««««Kahlil Gibran»»»»»»

Karya Kahlil Gibran (Bag2)

Lanjutan dari PUISI LENGKAP Karya|KAHLIL GIBRAN|



Air mata yang kutangiskan, wahai sahabatku yang papa, lebih murni daripada tawa ria orang yang ingin melupakannya, dan lebih manis daripada ejekan seorang pencemuh.



Air mata ini membersihkan hati dan kuman benci, dan mengajar manusia ikut merasakan pedihnya hati yang patah.



Benih yang kautaburkan bagi si kaya, dan akan kau tuai nanti, akan kembali pada sumbernya, sesuai dengan Hukum Alam. Dan dukacita yang kausandang, akan dikembalikan menjadi sukacita oleh kehendak Syurga.





Dan angkatan mendatang akan mempelajari Dukacita dan Kemelaratan sebagai pelajaran tentang Kasih Sayang dan Persamaan.



(Dari 'Suara Sang Guru')



«««« Khalil Gibran»»»»»



~PERSAHABATAN~



Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan. Dan dia menjawab: Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.



Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih. Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.



Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa inginkan kedamaian.



Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata "Tidak" di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata "Ya".



Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan



dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan. Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita; Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.



Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan. Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.



Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.



Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu? Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu! Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.



Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan.. Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.



««««Khalil Gibran»»»»»



«---bersambung---»







Photobucket
©satrioedan.

Senin, 05 Desember 2011

RANGKAIAN PUISI LENGKAP Karya|KAHLIL GIBRAN|

kahlil gibran bag(1)

Photobucket

|ANAK|




Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dakapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak.



Dan dia berkata: Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu



Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu Kerana mereka memiliki fikiran mereka sendiri Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan cuba menjadikan mereka sepertimu Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu



ngkau adalah busur-busur tempat
anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh. Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.


(Dari 'Cinta, Keindahan, Kesunyian')

Kahlil Gibran



|penyair|



Dia adalah rantai penghubung Antara dunia ini dan dunia akan datang Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan, Dia adalah sebatang pohon tertanam Di lembah sungai keindahan Memikul bebuah ranum Bagi hati lapar yang mencari.



Dia adalah seekor burung 'nightingale' Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan Menaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya



Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah Naik dan mengembang memenuhi angkasa. Kemudian mencurahkan kurnianya di atas padang kehidupan. Membuka kelopak mereka bagi menerima cahaya.



Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa mengajarkan Kalam Ilahi. Seberkas cahaya gemilang tak kunjung padam. Tak terliput gelap malam Tak tergoyah oleh angin kencang Ishtar, dewi cinta, meminyakinya dengan kasih sayang Dan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.



Dia adalah manusia yang selalu bersendirian, hidup serba sederhana dan berhati suci Dia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham Dan berjaga di keheningan malam, Menantikan turunnya ruh



Dia adalah si tukang jahit yang menjahit benih hatinya di ladang kasih sayang dan kemanusiaan menyuburkannya



Inilah penyair yang dipinggirkan oleh manusia pada zamannya, Dan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan Dunia pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ia pada Ilahi




Inilah penyair yang tak meminta apa-apa dari manusia kecuali seulas senyuman Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi cakerawala dengan kata-kata indah Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya




Sampai bila manusia terus terlena? Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan?? Sampai bila manusia mengabaikan mereka yang boleh memperlihatkan keindahan pada jiwa-jiwa mereka Simbol cinta dan kedamaian?




Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa org yang sudah tiada? dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa




Dan oh para penyair, Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini: Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.




Penyair.. Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia Dan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.

Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel.




(Dari 'Dam'ah Wa Ibtisamah' -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)




««««Kahlil Gibran»»»»




|MIMPI|




Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, "Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.",




Ketika aku sampai di pantai, kabus dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis. Aku melihat ombak yang berdeburan. Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu -kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.




Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk di atas sebongkah batu. Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.




Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku. Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata: "Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah. Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah."




Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,"Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya. Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah."




Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :




"Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan. Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna." Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:




'Itulah anak-anak cinta, Buah dari perjuangan, Akibat dari kebebasan, Tiga manifestasi Tuhan, Dan Tuhan adalah ungkapan dari alam yang bijaksana.'




Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.




Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu. Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu, hanya laut yang dipeluk halimunan. Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun kecuali asap dupa yang menggulung ke syurga.




«««Khalil Gibran»»»




|KEHIDUPAN|




Engkau dibisiki bahawa hidup adalah kegelapan Dan dengan penuh ketakutan Engkau sebarkan apa yang telah dituturkan padamu penuh kebimbangan




Kuwartakan padamu bahawa hidup adalah kegelapan jika tidak diselimuti oleh kehendak Dan segala kehendak akan buta bila tidak diselimuti pengetahuan Dan segala macam pengetahuan akan kosong bila tidak diiringi kerja Dan segala kerja hanyalah kehampaan kecuali disertai cinta




Maka bila engkau bekerja dengan cinta Engkau sesungguhnya tengah menambatkan dirimu Dengan wujudnya kamu, wujud manusia lain Dan wujud Tuhan.




«««Khalil Gibran»»»




|KASIH SAYANG DAN PERSAMAAN|




Sahabatku yang papa, jika engkau mengetahui, bahawa Kemiskinan yang membuatmu sengsara itu mampu menjelaskan pengetahuan tentang Keadilan dan pengertian tentang Kehidupan, maka engkau pasti berpuas hati dengan nasibmu.




Kusebut pengetahuan tentang Keadilan : Kerana orang kaya terlalu sibuk mengumpul harta utk mencari pengetahuan. Dan kusebut pengertian tentang Kehidupan : Kerana orang yang kuat terlalu berhasrat mengejar kekuatan dan keagungan bagi menempuh jalan kebenaran.




Bergembiralah, sahabatku yang papa, kerana engkau merupakan penyambung lidah Keadilan dan Kitab tentang Kehidupan. Tenanglah, kerana engkau merupakan sumber kebajikan bagi mereka yang memerintah terhadapmu, dan tiang kejujuran bagi mereka yang membimbingmu.




Jika engkau menyedari, sahabatku yang papa, bahawa malang yang menimpamu dalam hidup merupakan kekuatan yang menerangi hatimu, dan membangkitkan jiwamu dari ceruk ejekan ke singgahsana kehormatan, maka engkau akan merasa berpuas hati kerana pengalamanmu, dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing, serta membuatmu bijaksana.




Kehidupan ialah suatu rantai yang tersusun oleh banyak mata rantai yang berlainan. Duka merupakan salah satu mata rantai emas antara penyerahan terhadap masa kini dan harapan masa depan. Antara tidur dan jaga, di luar fajar merekah.




Sahabatku yang papa, Kemiskinan menyalakan api keagungan jiwa, sedangkan kemewahan memperlihatkan keburukannya. Duka melembutkan perasaan, dan Suka mengubati hati yang luka. Bila Duka dan kemelaratan dihilangkan, jiwa manusia akan menjadi batu tulis yang kosong, hanya memperlihatkan kemewahan dan kerakusan.




Ingatlah, bahawa keimanan itu adalah peribadi sejati Manusia. Tidak dapat ditukar dengan emas; tidak dapat dikumpul seperti harta kekayaan. Mereka yang mewah sering meminggirkan keimananan, dan mendakap erat emasnya.




Orang muda sekarang jangan sampai meninggalkan Keimananmu, dan hanya mengejar kepuasan diri dan kesenangan semata. Orang-orang papa yang kusayangi, saat bersama isteri dan anak sekembalinya dari ladang merupakan waktu yang paling mesra bagi keluarga, sebagai lambang kebahagiaan bagi takdir angkatan yang akan datang. Tapi hidup orang yang senang bermewahmewahan dan mengumpul emas, pada hakikatnya seperti hidup cacing di dalam kuburan. Itu menandakan ketakutan.




Air mata yang kutangiskan, wahai sahabatku yang papa, lebih murni daripada tawa ria orang yang ingin melupakannya, dan lebih manis daripada ejekan seorang pencemuh. Air mata ini membersihkan hati dan kuman benci, dan mengajar manusia ikut merasakan pedihnya hati yang patah.


««------bersambung-----»»