Tampilkan postingan dengan label puisi jalaludin rumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi jalaludin rumi. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

semua karena kehenda-MU by rumi

 Kumpulan puisi jalaludin rumi



"Judul puisi atas kehendak nya"

By:rumi







puisi cinta jalaludin rumi




Telah panjang-lebar kita berbicara,

tetapi sungguh penyiapan diri kita

untuk menempuh jalan yang membentang di depan

tidaklah cukup tiada sedikit pun mencukupi

tanpa kehendak Allah.Tanpa kehendak Allah

dan mereka yang dipilih-Nya,

siapa pun diri kita,

lembaran kita tetaplah hitam.



Yaa Allah,

kelimpahan-Mu memenuhi setiap kebutuhan,

tidaklah diizinkan untuk menyebutkan

sesuatu pun di sisi-Mu.

Alangkah berlimpahnya

petunjuk yang telah Kau anugerahkan

selama ini telah Engkau tutupi

begitu banyak aib dan cacat-cela kami.



Karena setitik pengetahuan

yang telah Engkau berikan sebelum kami disini

sampai kini rindu kami bersatu dengan lautan-Mu.

Setitik pengetahuan yang berada di dalam jiwa kami ini

bebaskan dia dari syahwat dan kungkungan tanah-liat ini.

Sebelum tanah-liat ini menghirupnya-habis,

sebelum angin ini menyapunya.



Sungguhpun, ketika dia tertiup jauh,

Engkau dapat meraihnya kembali, dan memulihkannya.

Setitik air yang telah menguap di udara

atau tertumpah ke tanah kapankah dia keluar

dari perbendaharaan-Mu,

wahai yang Maha-Menguasai.



Jika dia telah beranjak memasuki ketiadaan

atau seratus ketiadaan segera dia bergegas kembali

jika Engkau memanggilnya.

Ratusan ribu pihak telah saling membunuh satu sama lain

Seruanmu membangkitkan kembali mereka dari ketiadaan.



Yaa Rabb,

karavan demi karavan melesat terus-menerus

dari ketiadaan menuju keberadaan.

Setiap malam,

semua pemikiran dan pemahaman menjadi kosong,

mencebur ke Laut yang dalam



Lalu, ketika fajar merekah,

mereka yang Ilahiah itu menyembulkan kepala dari Laut,

bagaikan ikan.

Ketika musim gugur tiba,

tak-terhitung cabang-ranting dan dedaunan membusuk

ke dalam lautan Kematian.



Sementara di taman,

burung gagak bergaun hitam-pekat,

bagaikan pelayat yang meratapi gugurnya tanam-tanaman.

Lalu, dari Sang Penguasa datang perintah kepada ketiadaan

“Kembalikan apa yang telah engkau telan

Wahai Kematian yang hitam,

kembalikanlah tanaman, bunga-bunga, dedaunan

dan rerumputan yang telah engkau telan!”



Wahai saudaraku,

kumpulkanlah kecerdasanmu dan pertimbangkanlah

dari saat ke saat, terus-menerus beredar musim gugur

dan musim semi di dalam dirimu.

Pandanglah taman qalb

hijau dan berembun dan segar,

penuh kuntum mawar, cemara dan melati



Ranting-dahan tersembunyi lebatnya dedaunan,

padang yang luas dan istana yang tinggi,

tersembunyi oleh lebatnya bunga-bunga.

Kata-kata ini bersumber dari Akal Sejati,

bagaikan wanginya bunga-bunga, cemara dan bakung itu.



Apakah engkau bisa mencium wanginya mawar,

sementara kuntumnya tiada

Apakah bisa engkau memandang busanya anggur,

sementara anggurnya tiada



Wewangian itu adalah panduan

yang membimbingmu berjalan

itu akan membawamu ke Jannah dan Kautsar.

Wewangian adalah obat untuk mata yang buta

dia adalah pemantik cahaya

mata Jakub terbuka oleh suatu wewangian.



Bau-busuk menggelapkan mata

wanginya Jusuf menyembuhkannya.

Engkau bukanlah seorang Jusuf

karenanya, jadilah seperti Jakub

bersikaplah bagaikan beliau,

akrabilah linangan air-mata dan kesedihan mendalam.



Dengarlah nasehat dari Hakim Sana’i ini,

agar terasa kesegaran di raga rentamu:

“Kehinaan memerlukan sebuah wajah bagaikan mawar;

jika tidak engkau miliki wajah seperti itu,

janganlah engkau beredar kesana-kemari sambil marah.



Akhlak rendah adalah kehinaan dalam wajah yang buruk,

kepiluan adalah sakit-mata di mata yang buta.”

Pada kehadiran Jusuf jangan biarkan dirimu menyombong

dan berlagak seakan dirimu cantik

tiada lain yang perlu engkau tawarkan kecuali permohonan

dan rintihan seorang Jakub.



Makna dari kematian,

sebagaimana disampaikan oleh sang burung beo,

adalah memohon dengan merendahkan diri

matikanlah dirimu-sendiri dalam permohonan ampun

dan kefakiran jiwamu,

Sehingga hembusan Isa dapat menghidupkanmu-kembali,

dan membuatmu cantik dan dirahmati,

sebagaimana sejatinya dirimu.



Bagaimanakah sebongkah batu

dapat tertutupi oleh limpahan kehijauan musim Semi

Jadilah tanah, sehingga dapat engkau mekarkan

beragam bunga aneka warna.

Telah bertahun-tahun engkau bagaikan batu yang tajam

cobalah sesuatu yang segar

serahkanlah dirimu, jadilah seperti tanah.



 Demikian puisi jalaludin rumi semoga  bisa di ambil hikmahnya



Sumber :Rumi

Minggu, 10 Maret 2013

Puisi Rumi -Terjerat dalam kerumitan

Judul Puisi -Terjerat dalam kerumitan

Karya - Maulana Rumi







puisi karya rumi




Kita kecanduan diskusi rumit,
dan gemar mengatasi masalah.

Bolak-balik kita membuat simpul
lalu mengurainya kembali.

Terus menerus kita membuat aturan
tentang cara menampilkan kesulitan,
dan untuk menjawab aneka pertanyaan
yang diajukan.

Kita seperti burung
yang melonggarkan jerat
lalu mengencangkannya kembali
dalam rangka meningkatkan ketrampilan.

Sehingga hilang kesempatan terbang
jelajahi medan terbuka;
sehingga hilang kesempatan kunjungi
padang rumput,
habis umur sibuk dengan simpul.

Tetap saja buhul-jerat tak terkuasai,
walau sayap burung berkali-kali patah.

Simpul-jerat tak untuk dilawan,
jaga agar sayapmu tak patah.

Jangan rusak bulu pelindungmu
hanya sekedar untuk tunjukkan pada dunia,
betapa hebatnya usahamu.




karya:jalaludin rumi

Diambil dari:Rumi: Matsnavi  II: 3733 - 3738



kumpulan puisi karya rumi lainya disini

Senin, 04 Februari 2013

Syair Jalaludin Rumi Seorang Pencari

 Judul Puisi : Seorang Pencari



puisi seorang pencari






Cepat atau lambat

jika sejatinya engkau seorang pencari

pada akhirnya akan kau temukan.



Hendaknya selalu engkau mencari

dengan segenap dirimu.

Karena terus mencari

adalah panduan terbaik dalam Jalan.



Walau sampai pincang engkau

dan terseok-seok

walau sosokmu sampai bungkuk dan lusuh

teruslah merayap menuju Yang Tunggal.



Terkadang dengan ucapmu,

atau dengan heningmu,

hendaknya engkau waspada

selalu upayakan mengendus

wewangian Sang Raja

di pelosok ciptaan-Nya.





Sumber:Rumi-Matsnavi  III

Senin, 31 Desember 2012

Nafsumu Adalah Induk Segala Berhala

Puisi sufisme Jalaludin rumi

Judul :Nafsu Adalah Induk Segala Berhala

Dari  :Rumi masnawi 1



rumi-masnawi



Hawa-nafsumu adalah induk segala berhala

berhala jasmaniah itu bagaikan ular

sedangkan berhala batiniah itu bagaikan naga.

Hawa nafsu itu bagaikan besi dan batu untuk menghasilkan api

berhala jasmaniah itu nyala-api.

yang akan padam jika disiram air.



Tetapi tidaklah mungkin menundukkan besi dan batu dengan air.

Bagaimana insan yang sadar akan keberadaan hawa-nafsunya pernah merasa aman,

Jika berhala jasmaniah itu bagaikan air-hitam di dalam kendi

hawa-nafsu itu adalah pancuran yang mengeluarkan air-hitam.

Jika berhala jasmaniah itu seperti aliran air hitam



hawa-nafsu penghasil berhala itu bagaikan mata air yang penuh.

Hanya diperlukan sebutir batu untuk memecahkan kendi,

tapi bagaimana dengan pancuran yang terus memancarkan air-hitam itu.

Sangat mudah menghancurkan berhala jasmaniah

namun menganggap gampang menaklukkan hawa-nafsu

itu prasangka yang bodoh, bodoh sekali.



Wahai anakku, jika engkau ingin tahu bentuk-bentuk dari hawa-nafsu

pelajarilah tentang Neraka, dengan ke tujuh pintunya.

Setiap saat, hawa-nafu mengeluarkan tipu-muslihat

dalam setiap tipu-muslihat itu tenggelam seratus Fir'aun bersama bala-tentaranya.



Melesatlah kepada Musa dan Rabb-nya Musa,

jangan sampai kesombonganmu meluap, dan menumpahkan air keimanan.

Wahai pencari, genggamlah tuntunan Allah dan teladan Mustafa,

merdekakan dirimu dari Abu Jahal: jasmanimu sendiri.



Sumber: Rumi, Matsnavi I,

penerjemah bhs Inggris by Nicholson

Rabu, 05 Desember 2012

Air Kehidupan by rumi

Air Kehidupan

by:jalaludin rumi



jalaludin-rumi





Semua hal,terkecuali 

cinta kepada yang Maha Indah

walaupun tampak manis bagai gula

sebenarnya membuat jiwa menderita.



Apakah itu penderitaan jiwa?

Menyongsong kematian seraya tidak menggenggam

Air Kehidupan.



Umumnya manusia, menancapkan pandangan ke dua mata

mereka kepada bumi dan kematian 

seraya mereka menyimpan seratus keraguan tentang 

Air Kehidupan.





Berjuanglah sehingga seratus keraguanmu berkurang

jadi sembilan puluh: bergeraklah maju kepada Allah

pada malam harinya alam ini. 

karena jika engkau tertidur,

sang malam lah yang akan meninggalkanmu.



Di tengah gelapnya malam, carilah Siang yang terang,

ikutilah Akal Sejati yang menelan kegelapan.

Di balik hitamnya jubah malam, 

yang sewarna kejahatan, terdapat banyak kebaikan,

Air Kehidupan itu pasangan kegelapan.



Tapi bagaimana mungkin mengangkat kepalamu dari beratnya

kantuk, ketika engkau tebarkan seratus benih kemalasan.

Jika mendengkur bagaikan mati,

dan matinya makanan yang haram dijadikan sahabat,

maka engkau bagaikan pedagang yang tertidur,

sementara sang malam menjadi pencuri

yang membuatmu bangkrut.





sumber:Rumi-Matsnawi

Kamis, 22 November 2012

rumi Hanya engkaulah

 Judul:Hanya engkaulah

  by: jalaludin rumi







Dari seluruh semesta,hanya Engkau saja yang kupilih,

Apakah Engkau akan membiarkanku duduk bersedih.

Hatiku bagaikan pena,dalam genggaman tanganmu.

Engkaulah sebab gembiraku,atau sedihku.

Kecuali yang Engkau kehendaki,apakah yang kumiliki.

Kecuali yang Engkau perlihatkan,apakah yang kulihat.

Engkaulah yang menumbuhkanku,ketika aku sebatang duri,

ketika aku sekuntum mawar,ketika aku seharum mawar,

ketika duri-duriku dicabut.



Jika Engkau tetapkan aku demikian,maka demikianlah aku.

Jika Engkau kehendaki aku seperti ini,maka seperti inilah aku.

Di dalam wahana,tempat Engkau mewarnai jiwaku,siapakah aku.

Apakah yang kusukai apakah yang kubenci Engkaulah yang Awal,

dan kiranya, Engkau akan menjadi yang Akhir.

jadikanlah akhirku lebih baik,daripada awalku.



Ketika Engkau tersembunyi,aku seorang yang kufur.

Ketika Engkau tampak,aku seorang yang beriman.

Tak ada sesuatupun yang kumiliki,kecuali yang Engkau anugerahkan.

Apakah yang dapat kusembunyikan dari-Mu,di dalam hati atau perbuatanku.





Sumber:Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz

Kamis, 08 November 2012

Rumi-Pantulan Cahaya yang Mempesonamu

Judul:Pantulan Cahaya yang Mempesonamu

Oleh:jalaudin rumi



 




Sang hamba kecintaan makhluk,

yang dulu disanjung-puji dunia,

kini malah ditalaknya,

gerangan apa salahnya"





Itu karena dia memakai baju pinjaman,

dan lalu bersikap seolah memilikinya.





Kami mengambilnya kembali,

agar dia menjadi yakin,

bahwa semua khazanah itu milik Kami, 

dan mereka yang cantik-molek itu 

hanyalah para peminjam.

sehingga dia paham bahwa jubah-wujud itu





hanyalah sebuah pinjaman,

seberkas cahaya dari Matahari Wujud.





Semua keindahan, kuasa, kebajikan dan 

kesempurnaan yang hadir ditempat ini

bersumber dari Matahari Kesempurnaan.





Berkas-berkas cahaya Sang Matahari itu,

kini kembali pulang, 

bagaikan berputarnya bintang-bintang, 

meninggalkan dinding-dinding ragawi ini.





Ketika cahaya matahari telah surut,

semua dinding menjadi gelap menghitam.





Semua yang mempesonamu, 

pada wajah-wajah cantik,

adalah Cahaya Sang Matahari 

terpantul pada kaca prisma.





Beragam corak kaca 

membuat Cahaya tampil beraneka-warna.





Ketika prisma kaca beraneka-warna tak lagi ada,

barulah Cahaya tanpa-warna mempesonamu.





Bangunlah kebiasaan 

menatap Cahaya tanpa prisma kaca,

sehingga ketika prisma kaca itu remuk,

tak lagi engkau buta.



 Sumber:Rumi-Matsnawi  V: 981-991

Rabu, 07 November 2012

Mari Kita Berangkat

Mari Kita Berangkat

 


by:rumi



 









Wahai para pecinta, bangkitlah
Saatnya kita terbang ke langit,
cukup sudah kita tinggal di alam ini,
saatnya bertolak ke sana.

Sungguhpun indah sangat
ke dua taman ini,
kita lewati saja,
bergerak menuju ke Sang Tukang Kebun.

Mari teguhkan ruku kita ke arah Laut,

layaknya arus deras,
mari kita tunggang gelombang,
melaju di permukaan sang Laut.

Mari kita berangkat,

dari pemukiman penuh kesedihan ini,
menuju pesta pernikahan;
mari ubah wajah kita,
dari pucat-pasi,
menjadi segar merona.

Hati kita keras berdegup,
gemetar bagai daun dan ranting kecil
yang takut jatuh tercampak;
mari mencari suaka
di Wilayah Terlindung.

Tak mungkin mengelak dari kesakitan,
selama kita dalam pengungsian,
tak mungkin mengelak dari debu,
selama kita tinggal di padang pasir.

Bagai burung surgawi bersayap hijau,
dan berparuh tajam,
mari kita jadi pengumpul gula,
bercengkerama di kebun tebu.

Terkurung kita oleh bentuk-bentuk,
ciptaan Sang Pencipta tak-berbentuk,
Sudah puas kita dengan semua bentuk ini,
mari menuju Dia yang tanpa padanan.

Bentuk-bentuk ini adalah tanda-tanda

dari Sang Pembentuk tanpa-tanda;
tersembunyi dari pandangan iblis,
mari, kita menuju kepada yang tak-bertanda.

Di jalan penuh ujian ini,

Cinta adalah sang pemandu,
menuntun gerak maju kita.

Bahkan jika ada seorang raja 

menawarkan perlindungan,
lebih selamat kita menempuh jalan
dalam jama'ah.

Kita bagaikan air yang menetes
dari atap yang bocor,
mari kita memancar dari atap bocor itu
dan mengalir melalui saluran-air.

Kita melengkung bagai busur-panah,

karena tali-busur itu
berada di tenggorokan kita sendiri,
ketika kita telah menjadi lurus,
maka kita akan melesat,
bagai anak-panah terlepas dari busurnya.

Meringkuk kita bagai tikus dalam lubang,

gemetar takut pada kucing;
jika kita anak-singa,
tentu kita menghampiri induk-singa.

Mari berjuang

agar jiwa kita sejernih cermin
yang merindukan bayangan sesosok Yusuf;
mari menghampir kepada keindahan Yusuf
seraya membawa sebuah hadiah.

Sekarang, mari kita diam,

agar Sang Pemberi Perkataan
yang mengatakan semua ini;
bersama sabda-Nya,
mari kita berangkat. 




Sumber:Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz

Minggu, 15 Juli 2012

kematian sang pecinta

kematian sang pecinta











Para pecinta,

yang dengan ikhlas

mati dari diri mereka sendiri

mereka bagaikan gula

di hadapan Sang Kekasih.



Pada Hari Perjanjian

mereka minum Air Kehidupan

sehingga matinya jiwa mereka

tak seperti kematian orang lain.




Karena mereka telah dibangkitkan dalam Cinta,

kematian mereka tak seperti

orang kebanyakan.



Dengan kelembutan-Nya

mereka telah melampaui tingkat para malaikat

sama sekali tak bisa kematian mereka

dibandingkan dengan orang kebanyakan.



Apakah kau sangka Singa mati bagai anjing,

jauh dari hadirat-Nya?



Ketika para pecinta mati di tengah Jalan,

Sang Raja Ruhaniah berlari menyambut.



Ketika mereka mati di kaki Sang Rembulan

mereka menyala bagaikan Matahari.



Jiwa para pecinta sejati itu bersatu

mereka mati dalam saling mencintai.



Derai embun Cinta membasuh jantung mereka,

mereka sampai pada kematian

dengan hati berdarah-darah.



Setiap mereka,

mutiara yatim tiada tara,

tidaklah mereka mati di sisi ayah-ibunya.



Para pecinta terbang menembus lelangit,

para pembangkang terpanggang dalam Api.



Para pecinta terpana menatap yang tak-terlihat,

selain mereka, semua mati dalam buta-tuli.



Sepanjang hidupnya, para pecinta ketakutan,

karenanya mereka berjaga menghidupkan malam

kini mereka mati tanpa takut atau bahaya.



Mereka yang disini memuja dunia,

hidup bagaikan ternak,

dan akan mati seperti keledai.



Mereka yang hari ini mendamba wajah-Nya,

akan mati berbahagia,

gembira dengan apa yang mereka lihat.



Sang Raja menempatkan mereka

di sisi Rahmat-Nya

mereka tak mati dengan hina.



Mereka yang meneladan kebajikan Muhammad,

akan mati bagai Abu Bakar atau Umar.



Jiwa-jiwa mereka sama sekali tak tersentuh

kematian ataupun kehancuran.



Bahkan kudendangkan ode ini

kepada mereka yang menyangka

jiwa-jiwa mereka telah mati.



by:jalaludin rumi

Sabtu, 30 Juni 2012

Jalaluddin Rumi"Doa Cinta Pengantin"

puisi jalaludin rumi







Doa Cinta Pengantin

by:Jalaluddin Rumi

Ya Allah,

Andai Kau berkenan, limpahkanlah rasa cinta kepada kami,

Yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah Al Qubro

Yang Kau jadikan mata air kasih sayang

Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra

Yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci.



Ya Allah,

Andai semua itu tak layak bagi kami,

Maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridlo-Mu

Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat,

Saling menjaga kehormatan dikala jauh,

Saling menghibur dikala duka,

Saling mengingatkan dikala bahagia,

Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan,

Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.



Ya Allah,

Sempurnakanlah kebahagiaan kami

Dengan menjadikan perkawinan kami ini sebagai ibadah kepada-Mu

Dan bukti ketaatan kami kepada sunnah Rasul-Mu. Amin..

Kata kata lembut yang kita bisikkan pada pasangan kita

Tersimpan disuatu tempat rahasia di Surga

Pada suatu hari, mereka aka berjatuhan bagaikan hujan, lalu tersebar

Dan misteri cinta kita akan tumbuh bersemi

Disegala penjuru bumi

Minggu, 17 Juni 2012

puisi jalaudin rumi"cahaya dan bayangan"

syair jalaludin rumi



alt='puisi-syair-jalaludin-rumi'
title='jalaludin-rumi' width='250'
height='302'/>



Cahaya dan bayangan



Tak mungkin suatu semesta terpisah dari semesta-semesta lainnya.

Tidak mungkin basah terpisah dari air, suatu langkah dari gerakan lainnya. Takkan padam nyala api dengan api lainnya.



wahai anakku, hatiku berdarah karena Cinta , jangan bersihkan darahku dengan darah yang lain.Hanya matahari yang mampu enyahkan bayangan.

Matahari memanjangkan dan memendekkan bayangan"carilah kuasa ini dari Sang Matahari.



Kalaupun ribuan tahun kau coba hindari, pada akhirnya, kan kau dapati bayangan senantiasa bersamamu. Yang melayanimu adalah dosa- dosamu, yang menolongmu adalah sakitmu, nyala lilinmu adalah kegelapanmu, pencarian dan jelajahmu dari jerat rantaimu.



Hal ini kan kujelaskan, hanya jika telah kuat hatimu sebab jika remuk kristal-gelas hatimu, takkan pernah ia pulih. Mestilah engkau miliki, dan sandingkan keduanya,cahaya dan kegelapan. dengarkanlah anakku, bersujudlah dalam-dalam di hadapan Pohon TaQwa.



Ketika dari Pohon Rahmat-Nya, Dia tumbuhkan untukmu sayap dan bulu, jadilah sesenyap merpati, jangan mendekur. Ketika seekor katak masuk kedalam air, sang ular tak dapat mendengarnya tapi saat ia menguak, ular jadi tahu dimana ia berada.



Walaupun sang katak berusaha menipu, dengan mendesis menirukan ular, suara aslinya yang parau tetap terdengar. Sang katak hanya dapat selamat jika menutup mulut, dan diam di sudut bahkan sebutir gandum pun, jika ia bisa diam di sudut, berubah jadi harta-karun. Ketika sebutir gandum berubah menjadi harta-karun, takkan ia lenyap ditelan bumi jiwa, yang bagai sebutir gandum, berubah menjadi harta-karun, ketika ia mencapai khazanah Hu.



Apakah kuakhiri kata-kata ini disini, atau kuperas lagi, Engkau lah, Sang Pemilik Sabda, yang tentukan; Wahai Rajaku, siapalah hamba ini.



By"Jalaludin rumi

Sabtu, 12 November 2011

PUISI SUFISME KARYA "JALALUDIN RUMI"







APABILA TUHAN MEMBUKAKAN BAGIMU
JALAN UNTUK MAKRIFAT, MAKA JANGAN
HIRAUKAN TENTANG AMALMU YANG MASIH
SEDIKIT KERANA ALLAH S.W.T TIDAK MEMBUKA
JALAN TADI MELAINKAN DIA BERKEHENDAK
MEMPERKENALKAN DIRI-NYA KEPADA KAMU.



ALQUR'AN TERSURAT DAN TERSIRAT

Janganlah hanya faham sebatas arti kata-kata yang tertulis dalam Al-Quran
kerna dibalik yang tertulis terdapat arti yang tersembunyi di balik arti lapis kedua ada lagi arti baru,
yang menyilaukan fikiran dan pandangan.


Arti keempat, kecuali rasul, tak ada yang pernah memahami
kebesaran Tuhan, yang tiada tanding dalam Keghaiban,
hitunglah arti tersembunyi itu sampai tujuh.
kisah bermakna yang mengagumkan dari langit.

Wahai kawan, janganlah hanya memandang jilid Al-Quran.
Bagi setan, manusia hanyalah sepotong daging. Bagaikan manusialah Al-Quran itu.Bentuk lahir diluar dengan ruh tersembunyi didalamnya.



~JALALUDIN RUMI~



SATRIOEDAN  berkata:tentang maha karya "jalaludin rumi" dari syair diatas dari kata-kata ~Janganlah hanya faham sebatas arti kata-kata yang tertulis dalam Al-Quran ~dalam tingkatan islam ada 4 .syariat,tariqat,hakikat,makrifat. Dan ke4 itu di golongkan menjadi 2 bagian yaitu:


    • syariat dan thoriqot }lahir

    • hakikat dan makrifat}batin.



    • kalau kita memahami makna ALQUR'AN dari segi makna lahirnya saja tanpa ada rasa keinginan untuk mencari arti di balik arti yang tertulis. maka kita adalah termasuk kategori orang yang dimaksud dalam puisinya jalaludin rumi diatas,yaitu mengerti sebatas makna lahir saja.tak kan pernah tau dari sisi makna tersembunyinya.
      Sedangkan alqur'an disetiap ayat ayat sucinya menyimpan makna yang tersembunyi di balik makna yang tertulis.jika ingin tau makna yang tersembunyi berfikir dan fahamilah dari makna lahirnya.maka pasti akan terbuka makna yang tersembunyi.
      pemahaman,pengamalan,penerapan perintah tuhan secara bathin dengan "MENAFIKAN" sifat kita sebagai manusia,dan "MENGISBATKAN"semua adalah AF'ALULLOH. bahwa apa yang wujud didunia itu adalah tampilannya "LAMAUJUDAN ILLALLOH"

      itulah hakikatnya yang di maksud dengan makna yang tersembunyi,
      Misalnya jika kita ingin tau isi di balik kotak yang terkunci jalan satu2nya adalah mencari kuncinya,membuka kotaknya maka kita pasti akan tau apa yang ada di dalam kotak itu.

      Itulah salah satu contoh yang simpel.
      Dari petikan puisi di atas

      Komen Ala:satrio edan.



      TIPU DAYA DUNIA

      Dunia memiliki awan dan hujan yang tersembunyi,
      tetapi dalam jenis yang berbeda.
      Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
      Ini nampak nyata,
      hanya untuk orang yang berbudi halus –
      mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia
      yang semu.



      ALASAN DUNIA DI CIPTAKAN

      Alasan dunia ini diciptakan adalah untuk
      mengungkapkan
      apa yang harus diketahui.
      Dia menciptakan apa yang diketahuiNya
      tanpa kelahiran dan rasa sakit,
      engkau tidak dapat bermalas-malasan barang sekejap,
      sampai engkau bisa memukan hakikat dari dirimu.
      Perjuangan dan kerja yang kau lakukan dengan tekun
      adalah jalan menuju pengungkapan hakikat diri.
      Tubuhmu adalah poros yang terus berputar,
      Karena otakmu terus menarik benang.
      Kedua dunia berada dalam peristiwa
      kelahiran
      dan rasa sakitnya sang ibu di sebabkan kelahiran.
      Sebabnya adalah ibu, akibatnya adalah anak.
      Turun temurun manuisa mengulanginya,
      Hanya mata yang dicerahkan
      melihat rantai peristiwa ini.


      ~ Jalaluddin Rumi~